
Ibun, Kabupaten Bandung — Dalam upaya mendorong peran ibu sebagai agen perubahan di tengah masyarakat, tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan pelatihan Duta Stunting di Desa Sudi, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi model penelitian bertajuk “Model Partisipatif Peningkatan Peran Ibu sebagai Duta Stunting dalam Menyiapkan Generasi Emas 2045”, yang diketuai oleh Dr. Yanti Shantini, M.Pd., dari Fakultas Ilmu Pendidikan UPI.
Pelatihan awal dilaksanakan pada 14 Agustus 2025 di Gor Desa Sudi, diikuti oleh 15 kader posyandu. Pada tahap ini, para peserta diperkenalkan dengan konsep Duta Stunting dan pentingnya memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi dan advokasi kesehatan masyarakat.
Para kader dilatih untuk memahami bahwa mereka bukan sekadar penerima informasi, tetapi juga aktor penggerak perubahan sosial di lingkungan masing-masing. Seusai pelatihan pertama, para peserta diberi tugas belajar mandiri dan menyiapkan video edukasi tentang stunting sesuai dengan tema duta yang dipilih, seperti Duta Makanan Sehat, Duta Tumbuh Kembang Anak, Duta Pengembangan Diri Ibu, atau Duta Lingkungan.

Sesi lanjutan digelar pada 9 Oktober 2025 di Ruang Serbaguna Desa Sudi, Kec. Ibun. Kegiatan ini dihadiri oleh para kader posyandu, tim peneliti dari BRIN yaitu Dra. Etty Sisdiana, Renni Diastuti, S.Si., M.Si., dan Dra. Suci Paresti yaitu serta peneliti dari Universitas Indonesia, Wuri Prasetyawati, M.Psi., Ph.D.

Turut hadir pula tokoh masyarakat Kecamatan Ibun, Ibu Dr. Yanti Lidiati, yang memberikan pesan dan motivasi kepada peserta.
“Saya berharap kemampuan yang diperoleh dari pelatihan ini tidak hanya berhenti pada pembuatan konten untuk promosi posyandu atau penyuluhan stunting, tapi juga bisa memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Gunakan media sosial dengan bijak, jangan sampai membuat kita lalai dari peran utama sebagai pendidik pertama anak-anak kita,” ujarnya di sela kegiatan.
Pelatihan kedua ini difokuskan pada praktik langsung pembuatan konten digital edukatif menggunakan aplikasi sederhana seperti Canva dan CapCut, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung kreativitas dalam penyebaran pesan kesehatan.
Keesokan harinya, 10 Oktober 2025, tim peneliti mengadakan kegiatan evaluasi dan Focus Group Discussion (FGD). Agenda ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana efektivitas model yang diterapkan serta menggali pengalaman dan refleksi para kader setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dan pembelajaran mandiri.

Selain pengisian kuesioner penelitian, para peserta juga berbagi cerita dan kesan. Salah satu kader, Ibu Entin menyampaikan pengalaman yang menginspirasi:
“Saya sekarang jadi lebih percaya diri untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi tentang stunting. Dulu saya belum begitu terampil, tapi sekarang saya tahu cara membuat konten yang bermanfaat dan bisa menularkan semangat bagi ibu-ibu lain untuk ikut berdaya,” tuturnya dengan bangga.
Hasil FGD menunjukkan bahwa para peserta tidak hanya mengalami peningkatan pengetahuan tentang pencegahan stunting, tetapi juga menunjukkan peningkatan self-efficacy dan kemampuan komunikasi digital yang signifikan.
Ketua tim peneliti, Dr. Yanti Shantini, M.Pd., menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat:
“Kegiatan ini adalah bentuk nyata dari implementasi hasil penelitian yang dapat berdampak. Kami sangat berterima kasih atas dukungan BRIN, UI, pemerintah desa, dan para kader posyandu yang luar biasa semangat. Hasilnya bukan hanya peningkatan kapasitas digital, tapi juga tumbuhnya rasa percaya diri dan kepemilikan terhadap gerakan pencegahan stunting,” ujar Dr. Yanti.
Ia menambahkan bahwa hasil evaluasi ini akan digunakan sebagai bahan penyempurnaan model pemberdayaan sebelum dilakukan diseminasi lebih luas ke masyarakat.
Selama periode antara 14 Agustus hingga 9 Oktober 2025, para ibu peserta pelatihan secara aktif belajar mandiri, mengasah kemampuan membuat konten digital, serta menyebarkan pesan edukatif seputar gizi anak dan kesehatan keluarga. Model ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan berbasis komunitas dapat memperkuat peran perempuan desa dalam transformasi perilaku kesehatan masyarakat melalui media sosial.
Kegiatan kolaboratif ini diharapkan menjadi prototipe pemberdayaan perempuan berbasis digital yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. Dengan semangat “Bunda Berdaya, Berdampak”, para kader posyandu Desa Sudi kini tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pencipta perubahan nyata bagi generasi yang lebih sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.
