
Kota Bandung, 25 Oktober 2025
Sebagai upaya memperkuat peran perempuan dalam upaya pencegahan stunting, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan pelatihan Duta Stunting di PKBM Sukamulya, Kota Bandung. Program ini merupakan bagian dari tahun kedua implementasi riset berjudul “Model Partisipatif Peningkatan Ibu sebagai Duta Stunting dalam Menyiapkan Generasi Emas 2045,” yang dibiayai BRIN dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) lewat skema Riset Inovasi Indonesia Maju, dengan nomor kontrak 116/KS/11/2023 dan 2099/UN40.D/PT.01.03/2023.
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Yanti Shantini, M.Pd selaku ketua peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia, didampingi tim peneliti dari Universitas Indonesia yaitu Ibu Wuri Prasetyawati, M.Psi., Ph.D., dan tim peneliti dari BRIN yang meliputi Dr. Dra. Etty Sisdiana, Noor Soeseno Vijaya Krishna Nanji, M.A, Dra. Suci Paresti, dan Renni Diastuti, S.Si., M.Si. Turut berkontribusi pula Indri Ayu Widianti, M.Pd dari Universitas Siliwangi sebagai peneliti pendukung. Pelaksanaan teknis di lapangan dibantu oleh enam mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat UPI yang berperan sebagai research assistant, yakni Nurul Ilmi Apriliani, Witri Dian Rafani, Salma Alya Fauziyah, Marjani Tsauri Ernanto, Naia Maelani, dan Revaline Alviadi.
Pelatihan berlangsung 2 kali yaitu pada tanggal 24 Agustus 2025 dan 25 Oktober 2025 yang bertempat di Ruang Kelas PKBM Sukamulya. Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan peneliti yang menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara peneliti, akademisi, dan komunitas lokal dalam menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Kegiatan ini diikuti oleh 9 peserta perempuan yang merupakan tokoh masyarakat setempat, termasuk kader posyandu sekaligus pengurus PKK di lingkungan PKBM Sukamulya.
Pelatihan dirancang dengan menggunakan pendekatan Model Duta Stunting yang sudah dikembangkan. Model ini mengutamakan pergeseran strategi dari yang semula bersifat top-down menjadi bottom-up, yaitu dengan memberdayakan komunitas melalui tokoh-tokoh lokal. Dalam kerangka ini, kader dan tokoh masyarakat dibekali pelatihan sebagai fasilitator kunci (health cadre) yang selanjutnya akan membimbing dan melatih para ibu lainnya untuk menjadi duta stunting di komunitasnya masing-masing. Sasaran utama adalah menciptakan gerakan kolektif ibu sebagai agen edukasi yang aktif dan berpengaruh melalui platform digital, dengan mengusung semangat “Bunda Berdaya, Berdampak”.

Materi pelatihan dimulai dengan pengenalan konsep duta stunting sesuai dengan model yang dikembangkan tim peneliti. Peserta memperoleh wawasan mengenai pentingnya keterlibatan komunitas serta strategi edukasi yang berbasis pengalaman nyata (experience-based content). Mengingat fokus pelatihan adalah transformasi digital komunitas, maka materi yang diberikan meliputi penyusunan rencana konten (content planner) dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan konten edukatif yang dapat disebarluaskan lewat media sosial. Harapannya, peserta tidak sekadar menerima informasi, melainkan juga mampu menghasilkan konten yang relevan dan sesuai dengan konteks kebutuhan masyarakat di sekitarnya.
Peserta dikenalkan pada berbagai peran duta yang dapat mereka jalankan sesuai minat dan kapasitas masing-masing. Jenis-jenis peran duta yang diperkenalkan meliputi Duta Lingkungan, Duta Makanan Sehat, Duta Tumbuh Kembang Anak, dan Duta Pengembangan Diri Ibu. Pada akhir sesi, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menentukan peran duta yang akan mereka dalami. Setiap kelompok kemudian ditugaskan untuk menyusun perencanaan konten (content planner) yang akan dilaksanakan secara bertahap di media sosial sebagai bagian dari kampanye digital berbasis komunitas.

Pelatihan ini merupakan sesi pembuka yang dirancang dalam rangkaian implementasi model. Setelah sesi tersebut, dalam rentang waktu 24 Agustus hingga 25 Oktober, para peserta didorong untuk melakukan pembelajaran mandiri dalam membuat video edukatif dan rencana konten berbantuan AI. Proses ini menjadi tahap eksplorasi dan penerapan keterampilan yang telah diperoleh dari pelatihan awal.
Kemudian, pada 25 Oktober, dilaksanakan pelatihan lanjutan yang berfokus pada pembuatan poster dan video kampanye, sekaligus menjadi momen untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil pembelajaran peserta.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam upaya mewujudkan generasi emas 2045, dengan memperkuat kemampuan digital dan kepemimpinan perempuan di level grassroot. Selain memperkaya pendekatan intervensi stunting yang lebih partisipatif dan kontekstual, model ini juga membuka peluang kolaborasi antara dunia akademik, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat dalam menghasilkan inovasi sosial yang berdampak luas dan berkelanjutan.
